MAKALAH
PERADABAN
BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah “Ke Mathla’ul Anwaran 1”
Disusun oleh :
Nama : Madropik
N.I.M :
D08130060
Kelas : C
Semester :
III
Jurusan : Diksatrasiada
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MATHLA’UL ANWAR (BANTEN)
TAHUN
AKADEMIK
2014/2015
KATA PENGANTAR
Puji Syukur senantiasa kami
panjatkan kepada Allah SWT, atas karunianya Sehingga makalah ini dapat saya selesaikan. Makalah ini merupakan syarat
untuk melengkapi tugas Mata Kuliah “Ke Mathla’ul Anwaran 1”
Keberhasilan makalah ini tidak lain juga disertai referensi-referensi serta
bantuan dari pihak-pihak yang bersangkutan. Makalah ini juga masih memiliki
kekurangan dan kesalahan, baik dalam penyampaian
materi atau dalam penyusunan makalah ini. Penyusunan makalah ini juga
dimaksudkan untuk menambah wawasan mahasiswa mengenai materi ini.
Sehingga kriitik dan saran yang membangun yang sangat saya harapkan demi
kesempurnaan makalah ini. Akhirnya saya menyampaikan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga
makalah ini dapat terselesaikan.
Cikaliung, Desember 2014
Penyusun
|
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................. i
DAFTAR
ISI.................................................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar
Belakang.............................................................................................................. 1
- Rumusan Masalah ...................................................................................................... 1
- Tujuan.............................................................................................................................. 1
BAB II
PEMBAHASAN
- Keadaan Geografis Jazirah Arab............................................................................. 2
B.
Keadaan Sosial Dan Budaya Bangsa Arab
Sebelum Islam ...... ..................... 3
- Keadaan Ekonomi Bangsa Arab Sebelum
Islam................................................ 4
D.
Keadaan Politik Bangsa Arab Sebelum Islam.................................................... 6
- Keadaan Agama Bangsa Arab Sebelum
Islam…………………………...... ............ 6
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN................................................................................................................. 8
B.
SARAN………………………………………………………………………………………………… 8
DAFTAR PUSTAKA
|
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masa sebelum Islam, khususnya kawasan jazirah Arab,
disebut masa jahiliyyah. Julukan semacam ini terlahir disebabkan oleh
terbelakangnya moral masyarakat Arab khususnya Arab pedalaman (badui) yang
hidup menyatu dengan padang pasir dan area tanah yang gersang. Mereka pada
umumnya hidup berkabilah. Mereka berada dalam lingkungan miskin pengetahuan.
Situasi yang penuh dengan kegelapan dan kebodohan tersebut, mengakibatkan
mereka sesat jalan, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan, membunuh anak
dengan dalih kemuliaan, memusnahkan kekayaan dengan perjudian, membangkitkan
peperangan dengan alasan harga diri dan kepahlawanan. Suasana semacam ini terus
berlangsung hingga datang Islam di tengah-tengah mereka.
Namun demikian, bukan berarti masyarakat Arab pada
waktu itu sama sekali tidak memiliki peradaban. Bangsa Arab sebelum lahirnya
Islam dikenal sebagai bangsa yang sudah memiliki kemajuan ekonomi. Makkah misalnya pada waktu
itu merupakan kota dagang bertaraf internasional. Hal ini diuntungkan oleh
posisinya yang sangat strategis karena terletak di persimpangan jalan
penghubung jalur perdagangan dan jaringan bisnis dari Yaman ke Syiria.
Rentetan
peristiwa yang melatar belakangi lahirnya Islam merupakan hal yang sangat
penting untuk dikaji. Hal demikian karena tidak ada satu pun peristiwa di dunia
yang terlepas dari konteks historis dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya.
Artinya, antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya terdapat hubungan yang
erat dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan Islam dengan situasi dan
kondisi Arab pra Islam.
B.
Rumusan Masalah
a) Apakah yang dimaksud dengan sejarah peradaban islam ?
b) Bagaimana
keadaan bangsa arab sebelum islam ?
c)
Dan apa saja tujuan peradaban bangsa arab itu ?
C.
Tujuan
1.
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ke Mathla’ul
Anwaran 1.
2.
Untuk mendeskripsikan Sejarah
Peradaban Bangsa Arab sebelum Islam.
3.
Untuk mengetahui tujuan sejarah
peradaban Islam.
|
BAB II
PEMBAHASAN
A.
KEADAAN GEOGRAFIS JAZIRAH ARAB
Semenanjung Arab adalah semenanjung yang terletak di sebelah barat daya
Asia. Wilayahnya memiliki luas 1.745.900 kilometer persegi. Semenanjung ini
dinamakanjazirah karena tiga sisinya berbatasan dengan air, yakni
di sebelah timur berbatasan dengan teluk Oman dan teluk Persi, di sebelah
selatan berbatasan dengan Samudra Hindia dan teluk Aden, di sebelah barat
berbatasan dengan laut merah. Hanya di sebelah utara, jazirahini
berbatasan dengan daratan atau padang pasir Irak dan Syiria.
Secara geografis, daratan jazirah Arab didominasi padang
pasir yang luas, serta memiliki iklim yang panas dan kering. Hampir lima per
enam daerahnya terdiri dari padang pasir dan gunung batu. Luas padang pasir ini
diklasifikasikan Ahmad Amin sebagai berikut:
1.
Sahara Langit, yakni yang memanjang 140 mil dari utara ke selatan dan 180
mil dari timur ke barat. Sahara ini disebut juga sahara Nufud. Di daerah ini,
jarang sekali ditemukan lembah dan mata air. Angin disertai debu telah menjadi
ciri khas suasana di tempat ini. Hal itulah yang menyebabkan daerah ini sulit
dilalui.
2.
Sahara Selatan, yakni yang membentang dan menyambung Sahara Langit ke arah
timur sampai selatan Persia. Hampir seluruhnya merupakan dataran keras, tandus,
dan pasir bergelombang. Daerah ini juga disebut dengan daerah sepi (al-Rub’
al-Khali).
3.
Sahara Harrat, yakni suatu daerah yang terdiri dari tanah liat berbatu
hitam. Gugusan batu-batu hitam itu menyebar di seluruh sahara ini.
Secara garis besar, jazirah Arab dibedakan menjadi dua,
yakni daerah pedalaman dan pesisir. Daerah pedalaman jarang sekali mendapatkan
hujan, namun sesekali hujan turun dengan lebatnya. Kesempatan demikian biasa
dimanfaatkan penduduk nomadik dengan mencari genangan air dan padang rumput demi
keberlangsungan hidup mereka. Sedangkan daerah pesisir, hujan turun dengan
teratur, sehingga para penduduk daerah tersebut relatif padat dan sudah
bertempat tinggal tetap. Oleh karena itu, di daerah pesisir ini, jauh sebelum
Islam lahir, sudah berkembang kota-kota dan kerajaan-kerajaan penting, seperti
kerajaan Himyar, Saba’, Hirah dan Ghassan.
|
B.
KEADAAN SOSIAL DAN BUDAYA BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM
Masyarakat Arab terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu penduduk kota (Hadhary)
dan penduduk gurun (Badui). Penduduk kota bertempat tinggal tetap.
Mereka telah mengenal tata cara mengelola tanah pertanian dan telah mengenal
tata cara perdagangan. Bahkan hubungan perdagangan mereka telah sampai ke luar
negeri. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah memiliki peradaban cukup tinggi.
Sementara masyarakat Badui hidupnya berpindah-pindah dari satu tempat ke
tempat lainnya guna mencari air dan padang rumput untuk binatang gembalaan
mereka. Di antara kebiasaan mereka adalah mengendarai unta, mengembala domba
dan keledai, berburu serta menyerang musuh. Kebiasaan ini menurut adat mereka
adalah pekerjaan yang lebih pantas dilakukan oleh laki-laki. Oleh karena itu,
mereka belum mengenal pertanian dan perdagangan. Karenanya, mereka hidup
berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari kehidupan, baik untuk
diri dan keluarga mereka atau untuk binatang ternak mereka. Dalam perjalanan
pengembaraan itu, terkadang mereka menyerang musuh atau menghadapi serangan
musuh. Di sinilah terjadi kebiasaan berperang di antara suku-suku yang ada di
wilayah Arabia.
Ketika mereka diserang musuh maka suku yang bersekutu dengan mereka
biasanya ikut membantu dan rela mengorbankan apa saja untuk membantu kawan
sekutunya itu. Di sinilah dapat kita lihat adanya unsur kesetiakawanan yang ada
di antara mereka. Selain itu, manakala seorang anggota suku diserang oleh suku
lain maka seluruh anggota wajib membela anggotanya meskipun anggotanya itu
salah. Mereka tidak melihat kesalahan ada di pihak mana. Hal penting yang
mereka lakukan adalah membela sesama anggota suku. Itulah yang dapat kita lihat
dari sikap fanatisme dan patriotisme yang ada di dalam kehidupan masyarakat
Badui.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi geografis Arab sangat besar
pengaruhnya terhadap kejiwaan masyarakatnya. Arab sebagai wilayah tandus dan
gersang telah menyelamatkan masyarakatnya dari serangan musuh-musuh luar. Pada
sisi lainnya, kegersangan ini mendorong mereka menjadi pengembara-pengembara
dan pedagang daerah lain. Keluasan dan kebebasan kehidupan mereka di padang
pasir juga menimbulkan semangat kebebasan dan individualisme dalam pribadi
mereka. Kecintaan mereka terhadap kebebasan ini menyebabkan mereka tidak pernah
dijajah bangsa lain.
Kondisi kehidupan Arab menjelang kelahiran Islam secara umum dikenal dengan
sebutan zaman jahiliyah. Hal ini dikarenakan kondisi sosial politik dan
keagamaan masyarakat Arab saat itu. Hal itu disebabkan karena dalam waktu yang
lama, masyarakat Arab tidak memiliki nabi, kitab suci, ideologi agama dan tokoh
besar yang membimbing mereka. Mereka tidak mempunyai sistem pemerintahan yang
ideal dan tidak mengindahkan nilai-nilai moral. Pada saat itu, tingkat
keberagamaan mereka tidak berbeda jauh dengan masyarakat primitif.
|
Sesungguhnya
sejak zaman jahiliyah, masyarakat Arab memiliki berbagai sifat dan karakter
yang positif, seperti sifat pemberani, ketahanan fisik yang prima, daya ingat
yang kuat, kesadaran akan harga diri dan martabat, cinta kebebasan, setia
terhadap suku dan pemimpin, pola kehidupan yang sederhana, ramah tamah, mahir
dalam bersyair dan sebagainya. Namun sifat-sifat dan karakter yang baik
tersebut seakan tidak ada artinya karena suatu kondisi yang menyelimuti kehidupan
mereka, yakni ketidakadilan, kejahatan, dan keyakinan terhadap tahayul.
Pada masa itu, kaum wanita menempati kedudukan yang sangat rendah sepanjang
sejarah umat manusia. Masyarakat Arab pra Islam memandang wanita ibarat
binatang piaraan bahkan lebih hina lagi. Karena para wanita sama sekali tidak
mendapatkan penghormatan sosial dan tidak memiliki apapun. Kaum laki-laki dapat
saja mengawini wanita sesuka hatinya dan menceraikan mereka semaunya. Bahkan
ada suku yang memiliki tradisi yang sangat buruk, yaitu suka mengubur anak
perempuan mereka hidup-hidup. Mereka merasa terhina memiliki anak-anak
perempuan. Muka mereka akan memerah bila mendengar isteri mereka melahirkan
anak perempuan. Perbuatan itu mereka lakukan karena mereka merasa malu dan
khawatir anak perempuannya akan membawa kemiskinan dan kesengsaraan dan
kehinaan.
Selain itu, sistem perbudakan juga merajalela. Budak diperlakukan
majikannya secara tidak manusiawi. Mereka tidak mendapatkan kebebasan untuk
hidup layaknya manusia merdeka. Bahkan para majikannya tidak jarang menyiksa
dan memperlakukan para budak seperti binatang dan barang dagangan, dijual atau
dibunu
Secara garis besar kehidupan sosial masyarakat Arab secara keseluruhan dan
masyarakat kota Mekkah secara khusus benar-benar berada dalam kehidupan sosial
yang tidak benar atau jahiliyah. Akhlak mereka sangat rendah, tidak memiliki
sifat-sifat perikemanusiaan dan sebagainya. Dalam situasi inilah agama Islam
lahir di kota Mekkah dengan diutusnya Muhammad saw. sebagai nabi dan rasul
Allah.
Secara
singkat dapat disimpulkan keaadaan sosial dan kebudayaan bangsa Arab sebelum
islam diantaranya:
a. Orang-orang Arab sebelum
kedatangan Islam adalah orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrikin), yaitu
mereka menyembah patung-patung dan menganggap patung-patung itu suci.
b. Kebiasaan mereka ialah membunuh
anak laki-laki mereka karena takut kemiskinan dan kelaparan.
c. Mereka menguburkan anak-anak
perempuan mereka hidup-hidup karena takut malu dan celaan.
d. Mereka orang-orang yang suka
berselisihan, yang suka bertengkar, lantaran sebab-sebab kecil, sebab
segolongan dari mereka memerangi akan segolongannya.
C.
KEADAAN EKONOMI BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM
|
|
Perdagangan
merupakan unsur penting dalam perekonomian masyarakat Arab pra Islam. Makkah
misalnya, karena letak geografisnya yang sangat strategis maka ia menjadi
tempat persinggahan para kafilah dagang yang datang dan pergi menuju pusat
perniagaan. Mereka berdagang bukan saja dengan orang Arab, tetapi juga dengan
non-Arab. Kemajuan perdagangan bangsa Arab pra Islam dimungkinkan antara lain
karena pertanian yang telah maju. Kemajuan ini ditandai dengan adanya kegiatan
ekspor-impor yang mereka lakukan. Para pedagang Arab selatan dan Yaman pada 200
tahun menjelang Islam lahir telah mengadakan transaksi dengan Hindia, Afrika,
dan Persia. Komoditas ekspor Arab selatan dan Yaman adalah dupa, kemenyan, kayu
gaharu, minyak wangi, kulit binatang, buah kismis, dan anggur. Sedangkan yang
mereka impor dari Afrika adalah kayu, logam, budak; dari Hindia adalah gading,
sutra, pakaian dan pedang; dari Persia adalah intan. Data ini menunjukkan bahwa
perdagangan merupakan urat nadi perekonomian yang sangat penting sehingga
kebijakan politik yang dilakukan memang dalam rangka mengamankan jalur
perdagangan ini.
Faktor-faktor yang mendorong kemajuan perdagangan Arab sebelum Islam
sebagaimana dikemukakan Burhan al-Din Dallu adalah sebagai berikut:
1.
Kemajuan produksi lokal serta kemajuan aspek pertanian.
2.
Adanya anggapan bahwa pedagang merupakan profesi yang paling bergengsi.
3.
Terjalinnya suku-suku ke dalam politik dan perjanjian perdagangan lokal
maupun regional antara pembesar Hijaz di satu pihak dengan penguasa Syam,
Persia dan Ethiopia di pihak lain.
4.
Letak geografis Hijaz yang sangat strategis di jazirah Arab.
5.
Mundurnya perekonomian dua imperium besar, Byzantium dan Sasaniah, karena keduanya
terlibat peperangan terus menerus.
6.
Jatuhnya Arab selatan dan Yaman secara politis ke tangan orang Ethiopia
pada tahun 535 Masehi dan kemudian ke tangan Persia pada tahun 257 M.
7.
Dibangunnya pasar lokal dan pasa musiman di Hijaz, seperti Ukaz, Majna, Zu
al-Majaz, pasar bani Qainuna, Dumat al-Jandal, Yamamah dan pasar Wahat.
8.
Terblokadenya lalu lintas perdagangan Byzantium di utara Hijaz dan laut
merah.
Data-data yang dikemukakan Dallu menunjukkan bahwa antara ekonomi dan
politik tidak dapat dipisahkan dalam konteks kehidupan masyarakat Arab pra
Islam. Kehidupan politik Byzantium dan Sasaniah turut memberikan sumbangan
dalam memajukan proses perdagangan yang berlangsung di Hijaz, karena kedua
kerajaan ini sangat berkepentingan terhadap jalur perdagangan ini.
|
Di lain
sisi, Mekkah di mana terdapat ka’bah yang pada waktu itu sebagai pusat kegiatan
Agama, telah menjadi jalur perdagangan internasional. Hal ini diuntungkan oleh
posisinya yang sangat strategis karena terletak di persimpangan jalan yang
menghubungkan jalur perdagangan dan jaringan bisnis dari Yaman ke Syiria, dari
Abysinia ke Irak. Pada mulanya Mekkah didirikan sebagai pusat perdagangan lokal
di samping juga pusat kegiatan agama. Karena Mekkah merupakan tempat suci, maka
para pengunjung merasa terjamin keamanan jiwanya dan mereka harus menghentikan
segala permusuhan selama masih berada di daerah tersebut. Untuk menjamin
keamanan dalam perjalanan suatu sistem keamanan di bulan-bulan suci, ditetapkan
oleh suku-suku yang ada di sekitarnya. Keberhasilan sistem ini mengakibatkan
berkembangnya perdagangan yang pada gilirannya menyebabkan munculnya
tempat-tempat perdagangan baru.
Dengan posisi Mekkah yang sangat
strategis sebagai pusat perdagangan bertaraf internasional, komoditas-komoditas
yang diperdagangkan tentu saja barang-barang mewah seperti emas, perak, sutra,
rempah-rempah, minyak wangi, kemenyan, dan lain-lain. Walaupun kenyataan yang
tidak dapat dipungkiri adalah pada mulanya para pedagang Quraish merupakan
pedagang eceran, tetapi dalam perkembangan selanjutnya orang-orang Mekkah
memperoleh kesuksesan yang besar, sehingga mereka menjadi pengusaha di berbagai
bidang bisnis.
D.
KEADAAN POLITIK BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM
Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa sebagian besar daerah Arab
adalah daerah gersang dan tandus, kecuali daerah Yaman yang terkenal subur.
Ditambah lagi dengan kenyataan luasnya daerah di tengah Jazirah Arab,
bengisnya alam, sulitnya transportasi, dan merajalelanya badui yang merupakan
faktor-faktor penghalang bagi terbentuknya sebuah negara kesatuan serta adanya
tatanan politik yang benar. Mereka tidak mungkin menetap. Mereka hanya bisa
loyal ke kabilahnya saja. Oleh karena itu, mereka tidak akan tunduk ke sebuah
kekuatan politik di luar kabilahnya yang menjadikan mereka tidak mengenal
konsep negara.
Sementara menurut Nicholson, tidak terbentuknya Negara dalam struktur
masyarakat Arab pra Islam, disebabkan karena konstitusi kesukuan tidak tertulis[4].
Sehingga pemimpin tidak mempunyai hak memerintah dan menjatuhkan hukuman pada
anggotanya. Namun dalam bidang perdagangan, peran pemimpin suku sangat kuat.
Hal ini tercermin dalam perjanjian-perjanjian perdagangan yang pernah dibuat
antara pemimpin suku di Mekkah dengan penguasa Yaman, Yamamah, Tamim,
Ghassaniah, Hirah, Suriah, dab Ethiopia.
Model
organisasi politik bangsa Arab lebih didominasi kesukuan (model kabilah).
Kepala sukunya disebut Shaikh, yakni seorang pemimpin yang
dipilih antara sesama anggota.Shaikh dipilih dari suku yang lebih
tua, biasanya dari anggota yang masih memiliki hubungan famili. Shaikh tidak
berwenang memaksa, serta tidak dapat membebankan tugas-tugas atau mengenakan
hukuman-hukuman. Hak dan kewajiban hanya melekat pada warga suku secara
individual, serta tidak mengikat pada warga suku lain.
E.
KEADAAN AGAMA BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM
|
Sebelum
kedatangan Islam di arab terdapat berbagai agama diantara ada yang beragama
Yahudi, kristen dimana mayoritas penganut agama Yahudi tersebut pandai bercocok
tanam dan membuat alat-alat dari besi seperti perhiasan dan persenjataan.
Penduduk Arab menganut agama yang bermacam-macam. Paganisme, Yahudi, dan
Kristen merupakan ragam agama orang Arab pra Islam. Pagan adalah agama
mayoritas mereka. Ratusan berhala dengan bermacam-macam bentuk ada di sekitar
Ka’bah. Setidaknya ada empat sebutan bagi berhala-berhala itu: sanam, wathan,
nusub, dan hubal. Sanam berbentuk manusia dibuat dari logam atau kayu. Wathan
juga dibuat dari batu. Nusub adalah batu karang tanpa suatu bentuk tertentu.
Hubal berbentuk manusia yang dibuat dari batu akik. Dialah dewa orang Arab yang
paling besar dan diletakkan dalam Ka’bah di Mekah. Orang-orang dari semua
penjuru jazirah datang berziarah ke tempat itu. Beberapa kabilah
melakukan cara-cara ibadahnya sendiri-sendiri. Ini membuktikan bahwa paganisme
sudah berumur ribuan tahun. Sejak berabad-abad penyembahan patung berhala tetap
tidak terusik, baik pada masa kehadiran permukiman Yahudi maupun upaya-upaya
kristenisasi yang muncul di Syiria dan Mesir.
Agama Yahudi dianut oleh para imigran yang bermukim di Yathrib dan Yaman.
Tidak banyak data sejarah tentang pemeluk dan kejadian penting agama ini di JazirahArab,
kecuali di Yaman. Dzū Nuwās merupakan penguasa Yaman yang condong ke
Yahudi. Dia tidak menyukai penyembahan berhala yang telah menimpa bangsanya.
Dia meminta penduduk Najran agar masuk agama Yahudi. sehingga kalau mereka
menolak, maka akan dibunuh. Namun yang terjadi justru menolak, maka digalilah
sebuah parit dan dipasang api di dalamnya. Mereka dimasukkan ke dalam parit
itu, serta dibunuh dengan pedang atau dilukai sampai cacat bagi yang selamat
dari api tersebut. Korban pembunuhan itu mencapai dua puluh ribu orang. Yang
tampak hanyalah pertikaian di antara sekte-sekte Kristen. Menurut Muhammad
‘Abid al-Jabiri, al-Quran menggunakan istilah “Nasara” bukan “al-Masihiyah”
dan “al-Masihi” bagi pemeluk agama Kristen. Bagi pendeta Kristen resmi
(Katolik, Ortodoks, dan Evangelis) istilah “Nasara” adalah sekte sesat,
tetapi bagi ulama Islam mereka adalah “Hawariyun”. Para misionaris
Kristen menyebarkan doktrinnya dengan bahasa Yunani yang waktu itu
madhab-madhab filsafat dan aliran-aliran gnostik dan hermes menyerbu daerah
itu. Inilah yang menimbulkan pertentangan antara misionaris dan pemikir Yunani
yang memunculkan usaha-usaha mendamaikan antara filsafat Yunani yang bertumpu
pada akal dan doktrin Kristen yang bertumpu pada iman. Inilah yang melahirkan
sekte-sekte Kristen yang kemudian menyebar ke berbagai penjuru, termasuk
jazirah Arab dan sekitarnya. Sekte Arius menyebar di bagian selatan jazirah Arab,
yaitu dari Suria dan Palestina ke Irak dan Persia.
Salah satu
corak beragama yang ada sebelum Islam datang selain tiga agama di atas adalah Hanifiyah,
yaitu sekelompok orang yang mencari agama Ibrahim yang murni yang tidak
terkontaminasi oleh nafsu penyembahan berhala-berhala, juga tidak menganut
agama Yahudi ataupun Kristen, tetapi mengakui keesaan Allah. Mereka
berpandangan bahwa agama yang benar di sisi Allah adalah Hanifiyah,
sebagai aktualisasi dari millahIbrahim. Gerakan ini menyebar luas
ke berbagai penjuru Jazirah Arab khususnya di tiga wilayah Hijaz, yaitu
Yathrib, Taif, dan Mekah.
|
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Secara sosiologis, bangsa Arab sebelum Islam merupakan bangsa yang hidup
secara kesukuan. Mereka hidup berpindah-pindah. Hal ini disebabkan kondisi
geografis yang tidak mendukung, seperti model tanah yang tandus, berbatu,
padang pasir luas serta beriklim panas dan jarang turun hujan. Dalam keadaan
semacam ini, wajar jika mereka memiliki watak keras, suka berperang, merampok,
berjudi, berzina, sehingga terkesan jauh dari nilai-nilai moral-kemanusiaan.
Demikian ini seakan-akan menjadi tradisi masyarakat Arab sebelum Islam. Keadaan
semacam inilah yang meniscayakan zaman tersebut disebut zaman jahiliyyah.
Dari sisi perekonomian, unsur penting yang menjadi andalan masyarakat
Arab pra Islam adalah perdagangan di samping bertani dan beternak. Mereka telah
lama mengenal perdagangan bukan saja dengan orang Arab, tetapi juga dengan
non-Arab. Terbukti dengan adanya Mekkah sebagai kota dagang internasional.
Demikian ini karena letak daerah Hijaz, khususnya Mekkah, sangatlah strategis,
yakni penghubung jalur dagang antara Yaman dengan Syiria. Di samping itu,
daerah pesisir ini juga di lewati kapal-kapal dagang Eropa dan Asia melalui
laut merah.
Dunia politik Arab pra Islam lebih didominasi oleh model kesukuan. Pimpinan
tertinggi dari suku dinamakan Shaikh. Fungsi pemerintahan Shaikh ini
lebih banyak bersifat penengah (arbitrasi) dari pada memberi komando. Shaikh tidak
berwenang memaksa, serta tidak dapat membebankan tugas-tugas atau mengenakan
hukuman-hukuman. Dari dominasi model kesukuan ini, terbentuknya Negara kesatuan
serta adanya tatanan politik yang benar agaknya sedikit terhalangi.
Sementara jika ditinjau dari sisi keagamaan, masyarakat Arab pra Islam
memeluk berbagai macam agama, di antaranya Paganisme, Yahudi, Kristen dan Hanifiyah.
Agama-agama ini merupakan agama warisan dari pendahu-pendahulunya. Keadaan
tersebut masing terus berlangsung sampai datangnya Islam sebagai agama yang
hak, serta penyempurna dari agama-agama samawi sebelumnya.
B.
Saran
Penulis memberikan beberapa saran , yaitu :
1. Menerapkan
dan memahami sejarah peradaban Islam
2. Menerapkan
menyimak tepat guna dalam kehidupan sehari-hari
3. Melaksanakan
prilaku dalam kegiatan yang ada pada sejarah peradaban islam, agar kualitas memahami dan menyimak lebih baik.
|
DAFTAR
PUSTAKA
Ø
Al-Din, Burhan, Jazirat- Arab al-Islam, Beirut: t. p. 1989
Ø
Asy Syarkowi, Abdurrahman, Muhammad Sang Pembebas, Yogyakarta:
Mitra Pustaka 2003
Ø
R A A, Nicholson, A Literary History of The Arabs, Cambridge
: Cambridge University Perss 1997
Ø
Sa’id Romadhan al-Buthy, Muhammad, Sirah Nabawiyah, Jakarta:
Robbani Press cet 11 2006
Ø
Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam , Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada 2008

Tidak ada komentar:
Posting Komentar